Sabtu, 31 Oktober 2009

Cost of Quality

Cost of Quality
Written by Administrator
Friday, 12 June 2009 06:40

Menanggapi diskusi teman-teman professional Manajemen Mutu dalam milis QMS-Forum saya jadi terdorong untuk membuat tulisan ini.



Cost of Quality (COQ) pertama sekali dipopulerkan oleh Philip Crosby dalam bukunya Total Quality Control. Beliau mengemukakan bahwa mutu memiliki konsekuensi biaya yakni: biaya untuk mengendalikan (cost of control) dan biaya karena kegagalan mengendalikan (cost of failure to control).



Philip Crosby adalah pemikir manajemen mutu. Beliau memang bukan pencetus six sigma, tetapi beliau melakukan penanganan atas kegagalan mutu secara cepat, langsung pada titik, dimana mutu seharusnya diciptakan.

Setelah pensiun dari ITT dimana beliau menjabat sebagai vice-president selama 14 tahun, pada tahun 1991, beliau mendirikan perusahaan konsultan dan lembaga pendidikan di bidang mutu. Setelah pensiun sebagai tentara pasca PDII, beliau bekerja di pabrik dan setiap hari bergelut dengan lini perakitan (assembly line). Beliau wafat di bulan Agustus 2001, pada usia 75 tahun.



Sebenarnya, pemikiran yang beliau ingin sampaikan adalah, bahwa begitu mahalnya harga yang harus dibayar apabila organisasi menghasilnya produk yang tidak bermutu (poor quality). Maka, bagian paling penting dari pemikiran beliau adalah “cost of poor quality” (COPQ). Setiap non-conformance atau defect atau kegagalan mutu akan membawa konsekuensi biaya. Inilah yang ingin beliau tanamkan di hati setiap insan.



Maka beliau menulis buku yang berjudul “Quality is Free”, yang menyatakan bahwa untuk menghasilkan suatu produk yang berkualitas, tidak berarti diperlukan biaya yang besar, tetapi justru sebaliknya “free”.



Berikut ini adalah philosophy yang prinsip yang beliau serukan dalam hal pengendalian mutu, yang beliau sebut sebagai “Four Absolutes of Quality Management”:

1. Quality is defined as conformance to requirements, not as 'goodness' or 'elegance'.

2. The system for causing quality is prevention, not appraisal.

3. The performance standard must be Zero Defects, not "that's close enough".

4. The measurement of quality is the Price of Nonconformance, not indices.

Dari prinsip dasar (absolutes) di atas jelaslah bahwa mutu itu sebenarnya haruslah diukur dari sudut “harga yang harus dibayarkan” untuk kegagalan (nonconformance). Inilah yang dimaksud dengan “Cost of Poor Quality”. Lebih dalam lagi, pada point 2, beliau menyebutkan bahwa system yang menghasilkan mutu adalah “pencegahan”, bukan “penilaian”. Dalam hal ini, diperlukan perubahan mendasar dalam pola pikir tentang mutu dan kegagalan mutu. Bahwa “quality is free” akan menjadi kenyatakan jika maanjemen menciptakan suatu sistem yang dapat mencegah kegagalan.



System tidak hanya berarti infrastruktur, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah pola pikir, sikap terhadap mutu. Maka pada point 3 di atas, Philip Crosby menegaskan bahwa standar kinerja adalah “zero defect”, sesuatu yang sempurna tanpa cacat. Prinsip “zero defect” harus menjadi sikap mental yang mendasari manajemen mutu. Oleh sebab itu pimpinan tertinggi di perusahaanlah yang harus menjadi orang pertama yang menerima dan menghargai prinsip ini.



Kalau ini yang terjadi, maka COPQ dapat dihindari dan “quality is free” akan tercapai.



Sesungguhnya, COPQ yang paling tinggi harganya bukanlah biaya material dan sumber daya lainnya (waktu, energi, pemikiran, opportunity cost, dll). Harga yang paling mahal adalah nama baik, yang konsekuensinya adalah tingkat kepercayaan konsumen dengan perusahaan. Bila persepsi konsumen terhadap perusahaan telah berubah semakin negatif, maka perusahaan berada dalam bahaya, karena future business tidak lagi bisa diharapkan.



Yang paling buruk lagi adalah, bahwa nama perusahaan yang negatif ini cepat menyebar, dan calon konsumen atau konsumen lainpun akan menjauh. Saya menyebutnya sebagai “disaster of quality”, karena “image” perusahaan atau brand menjadi hancur berkeping-keping.



Mengakhiri tulisan ini, saya ingin sampaikan bahwa quality is free harus dimulai dari dalam. Zero defect dan excellence akan menjadi kenyataan jika hati anda memang benar-benar ada di situ, dan anda mendedikasikan diri untuk menjaga komitmen itu. Maka dengan sendirinya yang lain akan mengikuti dan “zero defect is free” akan menjadi kenyataan. And finally you are ready to enjoy your future success!



Semoga bermanfaat.



Salam Excellence!

Manuntun for IQL (Indonesia Quality Links)

http://www.indonesiaqualitylinks.co.cc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar