Kamis, 22 Oktober 2009

Profil Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta "MANTRIJERO"

Yang tampil pada urutan berikutnya adalah Bregada Prajurit Mantrijero. Pada jamannya, Bregada Prajurit Mantrijero beranggotakan menteri-menteri di Keraton yang bertugas sebagai hakim yang memutuskan perkara. Tugasnya sebagai pengawal Sultan pada saat diselenggarakannya Upacara Jumenengan Dalem Nata di Bangsal Sitihinggil. Prajurit Mantrijero berseragam sikepan dan celana panji dengan corak lurik khas Mantrijero, sepatu model pantopel berwarna hitam dengan kaos kaki warna putih, serta topi berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Purnamasidi, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Cokro. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, dan terompet yang mengumandangkan lagu Plangkeman, Slagunder dan Mars Stok. Bregada Prajurit Mantrijero dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata “Joyo, Bahu, Prawiro atau Rono”.
Di belakang Bregada Prajurit Mantrijero adalah Bregada Prajurit Nyutro dengan ciri seragamnya yang sangat khas dan unik. Sebetulnya, bregada ini lebih bersifat sebagai prajurit klangenan, bukan sebagai prajurit perang. Ciri khas para prajurit yang menjadi anggota bregada ini adalah kewajiban memiliki ketrampilan menari atau mbeksa. Tugasnya adalah sebagai pengawal dalam upacara Garebeg dan sebagai penjaga keselamatan Sultan pada saat duduk pada singgasana di Sitihinggil. Bregada ini terbagi 2 kelompok dengan seragam yang berbeda. Kelompok pertama berseragam rompi dan celana panji berwarna hitam, kain kampuh biru tua dengan warna putih ditengahnya serta ikat kepala berbentuk udheng gilig berwarna hitam. Jika seragam kelompok pertama didominasi warna hitam, seragam kelompok kedua didominasi warna merah. Sejatinya prajurit ini tidak menggunakan alas kaki. Bendera kelompok pertama bernama Padma Sri Kresna dan Podang Ngisep Sari untuk kelompok kedua, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Korps musik dalam bregada ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling dan terompet yang mendendangkan lagu Surengprang dan Tamtama Balik. Sementara ciri senjata yang melengkapi Bregada Prajurit Nyutra berupa senapan api dan tombak berikut perisai atau tameng. Ciri nama para prajuritnya mengambil nama-nama tokoh dalam pewayangan.
Berikutnya adalah Bregada Prajurit Bugis. Sebagaimana Bregada Prajurit Dhaheng, bregada ini para anggotanya berasal dari Sulawesi. Bregada ini sehari-hari bertugas sebagai pengawal Pepatih Dalem yang berada di Kepatihan. Pada jaman Belanda, bregada ini tidak termasuk dalam kewenangan Keraton. Saat ini, Bregada Prajurit Bugis difungsikan sebagai pengawal Gunungan pada setiap upacara Garebeg. Seragam yang digunakan para Prajurit Bugis berupa baju berbentuk kurung dan celana panjang hitam, topi hitam dan dipersenjatai dengan tombak panjang. Korps musik Bregada Prajurit Bugis dilengkapi dengan alat musik tambur, pui-pui, bende dan ketipung kecil. Benderanya bernama Wulandadari, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu diawali dengan kata “Rangsang”.
Dalam setiap upacara Garebeg, di belakang barisan yang membawa sejumlah Gunungan, tampil Bregada Prajurit Surakarsa yang bertugas mengawal Gunungan di bagian belakang. Dahulu, bregada ini bertugas sebagai pengawal Pangeran Adipati Anom, yaitu putera mahkota yang berada di nDalem Mangkubumen. Bregada Prajurit Surokarsa berseragam berbentuk sikepan dan celana berwarna putih, kain sapit urang, dilengkapi ikat kepala serupa blangkon berwarna hitam dan sepatu serta kaus kaki berwarna hitam. Benderanya bernama Pare Anom, dengan dwaja bernama Dapur Banyak Angrem. Bregada ini juga memiliki korps musik yang dilengkapi dengan perangkat musik tambur dan seruling, serta dipersenjatai dengan tombak panjang.
Disamping ke-10 bregada prajurit yang ada pada masa ini, dahulu Keraton Kasultanan Yogyakarta juga memiliki sejumlah kesatuan lain yang memiliki tugas dan ciri khas tertentu, diantaranya : Prajurit Sumoatmojo, Prajurit Jager, Prajurit Langenastro dan Prajurit Langenarja. Prajurit Sumoatmojo merupakan bagian dari Bregada Prajurit Nyutra yang dipersenjatai dengan sebilah pedang berikut perisai atau tameng dan bertugas sebagai pengawal pribadi yang langsung berada dibawah komando Sultan. Prajurit Jager merupakan pasukan bersenjata senapan api yang tidak mempunyai seragam khusus, hanya berbusana dinas sehari-hari sebagaimana para pegawai atau punggawa Keraton. Prajurit Langenastro adalah pasukan tambahan yang dimasukkan dalam Bregada Prajurit Mantrijero, yang pada jamannya memiliki senjata khas berupa sebilah pedang. Sedangkan Prajurit Langenarja, konon adalah kesatuan yang terdiri dari para prajurit perempuan.
Sebagai bagian dari sistem pertahanan, pada jaman dahulu, para prajurit ini diberikan tempat tinggal di seputar Benteng Baluwerti atau benteng luar Keraton Kasultanan, terutama di sebelah barat, selatan dan timur benteng. Di sebelah utara tidak ditempatkan bregada prajurit, dimungkinkan karena sudah adanya benteng Belanda, yang saat ini dikenal sebagai Benteng Vredeburg.
Tempat tinggal para prajurit itu, saat ini menjadi nama-nama kampung sesuai dengan kesatuan prajurit yang pernah menempatinya. Di sebelah barat benteng terdapat Kampung Wirobrajan, Patangpuluhan, Ketanggungan dan Bugisan. Di sebelah barat daya terdapat Kampung Daengan. Di sebelah selatan, terletak Kampung Mantrijeron, Jageran, Jogokaryan dan Prawirotaman. Sementara di timur terdapat Kampung Nyutran dan Kampung Surokarsan. Berbeda dengan yang lainnya, Prajurit Langenastro dan Prajurit Langenarja ditempatkan di dalam wilayah benteng Keraton, yang saat ini dikenal sebagai Kampung Langenastran dan Kampung Langenarjan.
Namun para prajurit Keraton yang ada saat ini, hampir semuanya tidak lagi tinggal di kampung-kampung itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar